Mengingat Jaman dulu Yuk!!!!
Peninggalan Indonesia
Wilayah Indonesia sangatlah luas dengan berbagai macam suku dan budaya . Terdapat banyak sekali peninggalan bersejarah yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang bernilai tinggi. Contohnya sebagai berikut:
Arca Prajnaparamita.
Patung Prajnaparamita yang paling terkenal di dunia, karena kehalusan citranya.
Arca perwujudan Bodhisattwadewi (bodhisattwa wanita) Prajnaparamita yang paling terkenal adalah arca Prajnaparamita dari Jawa kuno. Arca ini diperkirakan berasal dari abad ke-13 Masehi pada era kerajaan Singhasari. Arca ini ditemukan di reruntuhan Cungkup Putri dekat Candi Singhasari, Malang, Jawa Timur. Menurut kepercayaan setempat, arca ini adalah perwujudan Ken Dedes ratu pertama Singhasari, mungkin sebagai arca perwujudan anumerta beliau. Akan tetapi terdapat pendapat lain yang mengaitkan arca ini sebagai perwujudan Gayatri, istri Kertarajasa raja pertama Majapahit. Arca ini pertama kali diketahui keberadaannya pada tahun 1818 atau 1819 oleh D. Monnereau, seorang aparat Hindia Belanda. Pada tahun 1820 Monnereau memberikan arca ini kepada C.G.C. Reinwardt, yang kemudian memboyongnya ke Belanda dan akhirnya arca ini menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde di kota Leiden. Pada Januari 1978 Rijksmuseum voor Volkenkunde (Museum Nasional untuk Etnologi) mengembalikan arca ini kepada Indonesia, dan ditempatkan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta hingga kini. Kini arca yang luar biasa halus dan indah ini ditempatkan di lantai 2 Gedung Arca, Museum Nasional, Jakarta.
Arca Prajnaparamita ini adalah salah satu mahakarya terbaik seni klasik Hindu-Buddha Indonesia, khususnya seni patung Jawa kuno. Arca dewi kebijaksanaan transendental dengan raut wajah yang tenang memancarkan keteduhan, kedamaian, dan kebijaksanaan; dikontraskan dengan pakaiannya yang raya mengenakan Jatamakuta gelung rambut dan perhiasan ukiran yang luar biasa halus. Dewi ini tengah dalam posisi teratai sempurna duduk bersila diatas padmasana (tempat duduk teratai), dewi ini tengah bermeditasi dengan tangan melakukan dharmachakra-mudra (mudra pemutaran roda dharma). Lengan kirinya mengempit sebatang utpala (bunga teratai biru) yang diatasnya terdapat keropak naskah Prajnaparamita-sutra dari daun lontar. Arca ini bersandar pada stella (sandaran arca) berukir, dan di belakang kepalanya terdapat halo atau aura lingkar cahaya yang melambangkan dewa-dewi atau orang suci yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi.
Replika Rumah Minang.
Rumah Gadang atau rumah Godang adalah nama untuk rumah adat tradisional Minangkabau yang banyak dijumpai di provinsi Sumatera Barat. Rumah ini juga disebut dengan nama lain oleh masyarakat setempat dengan nama rumah Bagonjong atau Rumah Baanjuang.
Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Contohnya saja seperti jumlah kamar yang bergantung pada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dari suku atau kelompok tertentu secara turun menurun dan hanya dimiliki dan diwarisi dari dan kepada perempuan kelompok tersebut.
Rumah Gadang, di samping sebagai tempat tinggal, juga dapat berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga, tempat mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat, dan merupakan representasi dari budaya matrilineal. Rumah Gadang sangat dimuliakan dan bahkan dipandang sebagai tempat suci oleh masyarakat Minangkabau. Status rumah Gadang yang begitu tinggi ini juga melahirkan berbagai macam tata krama. Setiap orang yang ingin naik ke rumah Gadang harus terlebih dahulu mencuci kakinya.
Bentuk rumah Gadang sendiri dapat diibaratkan seperti bentuk kapal. Kecil di bawah dan besar di atas. Bentuk atapnya mempunyai lengkung ke atas, kurang lebih setengah lingkaran, dan berasal dari daun Rumbio (nipah). Bentuknya menyerupai tanduk kerbau dengan jumlah lengkung empat atau enam, dengan satu lengkungan ke arah depan rumah.
Replika Jam Gadang.
Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi sekretaris (controleur) Kota Bukittinggi (Fort de Kock) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker.
Konstruksi bangunan menara jam ini dibangun oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden.
Monumen Jam Gadang berdiri setinggi 26 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih, yang dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol) Kota Bukittinggi. Konstruksinya tidak menggunakan rangka logam dan semen, tetapi menggunakan campuran batu kapur, putih telur, dan pasir.
Bangunan Jam Gadang memiliki 4 tingkat. Tingkat pertama merupakan ruangan petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam. Sementara pada tingkat ketiga merupakan tempat dari mesin jam dan tingkat keempat merupakan puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan. Pada lonceng di puncak tersebut tertera nama dari produsen mesin jam ini.
Atap berbentuk gonjong di puncak menara yang kini dapat kita saksikan bukanlah bentuk asli dari bangunan tersebut pada masa awal pendiriannya. Desain awal puncak Jam Gadang berbentuk bulat bergaya khas Eropa, dengan patung ayam jantan di bagian atasnya.
Memasuki era pendudukan Jepang, atap Jam Gadang dirubah mengikuti gaya arsitektur Jepang. Saat era kemerdekaan tiba, atap tersebut dirombak kembali menjadi bentuk atap bagonjong yang merupakan ciri khas dari arsitektur bangunan asli Minangkabau.
Mesin jam yang digunakan di dalam monumen ini merupakan barang langka yang hanya diproduksi dua unit oleh pabrik Vortmann Recklinghausen, Jerman. Unit kedua yang setipe dengannya hingga kini masih digunakan dalam menara jam legendaris Kota London, Inggris, yaitu Big Ben.
Sistem yang bekerja di dalamnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun.
Mesin yang berada di lantai tiga ini menggerakkan jarum jam yang menghadap keempat penjuru mata angin. Diameter masing-masing area perputaran jarum jam tersebut adalah 80 centimeter. Seluruh angka jam dibuat menggunakan sistem penomoran Romawi, akan tetapi angka empat ditulis dengan cara diluar kelaziman, yaitu dengan empat huruf 'I' (IIII) dan bukan dengan tulisan 'IV'. Hal ini menjadi salah satu daya tarik yang menimbulkan rasa penasaran bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota ini.
Lonceng
Dahulu lonceng digunakan untuk mengabarkan suatu berita kepada masyrakat dan sebagai penanda waktu. Lonceng atau genta digunakan di berbagai agama di dunia sebagai penanda waktu ibadah atau sebagai bagian dari perangkat ritual. Genta digunakan antara lain dalam ritual Buddhisme dan Hinduisme. Dalam agama Buddha genta digunakan untuk menandai waktu beribadah, genta besar biasanya diletakkan di wihara dan dibunyikan pada waktu-waktu tertentu. Pada agama Hindu terutama Hindu Bali genta kecil berukir wajra digunakan pedanda (pendeta) Hindu dalam ritual pemujaan.
Lonceng juga digunakan oleh umat Kristiani untuk memberi tanda waktu beribadah, biasanya dibunyikan tiga kali, pada pukul 06.00. 12.00, dan 18.00. Lonceng digunakan pertama kali dalam gereja Katolik sekitar tahun 400 masehi, dan dianggap diperkenalkan oleh Paulinus, Uskup Nola, sebuah kota di Campania, Italia. Penggunaannya menyebar luas dengan cepat dan tidak hanya digunakan untuk mengumpulkan umat dalam acara keagamaan, tetapi juga sebagai peringatan ketika ada bahaya.
Mainan Tradisional.
Gambar di atas adalah salah satu mainan pada zaman dulu, yang menyibuk kan anak" dulu bukanya hp melainkan mainan di atas, contohnya seperti
- Mobil-mobilan
- Pistol mainan dari bambu
- Kapal otok- otok
- Yoyo
- Gasing
- Congklak,dan ada banyak yang lainnya
Kentongan.
Sejarah budaya kentungan sebenarnya dimulai sebenarnya berasal dari legenda Cheng Ho dari Cina yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentungan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan. Penemuan kentungan tersebut dibawa ke Cina, Korea, dan Jepang.Kentungan sudah ditemukan sejak awal masehi. Setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarahnya yang tinggi. Di Nusa Tenggara Barat, kentungan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX menggunakannya untuk mengumpulkan massa. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentungan Kiai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.
Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah. Pada masa sekarang ini, penggunaan kentongan lebih bervariatif.
Kentungan merupakan alat komunikasi zaman dahulu yang dapat berbentuk tabung maupun berbentuk lingkaran dengan sebuah lubang yang sengaja dipahat di tengahnya. Dari lubang tersebut, akan keluar bunyi-bunyian apabila dipukul. Kentungan tersebut biasa dilengkapi dengan sebuah tongkat pemukul yang sengaja digunakan untuk memukul bagian tengah kentungan tersebut untuk menghasilkan suatu suara yang khas.Kentungan tersebut dibunyikan dengan irama yang berbeda-beda dan keras untuk menunjukkan kegiatan atau peristiwa yang berbeda. Pendengar akan paham dengan sendirinya pesan yang disampaikan oleh kentungan tersebut.biasanya kentongan zaman dahulu ada di tempat tempat penting, seperti rumah kepala lurah atau RT, dan tempat lain.Awalnya, kentungan digunakan sebagai alat pendamping ronda untuk memberitahukan adanya pencuri atau bencana alam. Dalam masyarakat pedalaman, kentungan sering kali digunakan ketika surau-surau kecil atau sebagai pemanggil masyarakat untuk ke masjid apabila jam salat telah tiba. Namun, kentungan yang dikenal sebagai teknologi tradisional ini telah mengalami transformasi fungsi. Dalam masyarakat modern, kentungan dijadikan sebagai salah satu alat yang efektif untuk mencegah demam berdarah. Dengan kentungan, pemantauan terhadap pemberantasan sarang nyamuk pun dilakukan. Dalam masyarakat tani, sering kali menggunakan kentungan sebagai alat untuk mengusir hewan yang merusak tanaman dan padi warga.
Telepon Tradisional.
Telepon adalah pesawat dengan listrik dan kawat, untuk bercakap-cakap antara dua orang yang berjauhan tempatnya. Kebanyakan telepon beroperasi dengan menggunakan transmisi sinyal listrik dalam jaringan telepon sehingga memungkinkan pengguna telepon untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya.
Ketika gagang telepon diangkat, posisi telepon disebut off hook. Lalu sirkuit terbagi menjadi dua jalur di mana bagian positifnya akan berfungsi sebagai Tip yang menunjukkan angka nol sedangkan pada bagian negatif akan berfungsi sebagai Ring yang menunjukkan angka -48V DC. Kedua jalur ini yang nantinya akan memproses pesan dari sender untuk sampai ke receiver. Agar dapat menghasilkan suara pada telepon, sinyal elektrik ditransmisikan melalui kabel telepon yang kemudian diubah menjadi sinyal yang dapat didengar oleh telepon receiver. Untuk teknologi analog, transmisi sinyal analog yang dikirimkan dari central office (CO) akan diubah menjadi transmisi digital. Angka-angka sebagai nomor telepon merupakan penggabungan antara nada-nada dan frekuensi tertentu yang kemudian dinamakan Dual-tone multi-frequency DTMF dan memiliki satuan Hertz. Hubungan utama yang ada dalam sirkuit akan menjadi on hook ketika dibuka, lalu akan muncul getaran. Bunyi yang muncul di telepon penerima menandakan telepon telah siap digunakan.
Televisi Jaman Dulu.
Bagi generasi 80-90an, televisi merupakan barang mahal yang tidak semua orang bisa memilikinya dengan mudah. Kala itu, televisi merupakan salah satu ukuran seseorang bisa dikatakan ‘kaya’ atau tidak. Televisi pun menjadi salah satu dari sekian banyak hiburan anak-anak dan remaja di jaman dulu. Meski tidak semua orang memiliki televisi, setidaknya ada 1-2 orang dalam satu kampung yang memiliki barang elektronik audio visual dengan segala keunggulannya tersebut.
Karena stasiun televisi masih sedikit, mau tidak mau generasi masa lalu biasanya akan menonton pada hari-hari dan jam-jam tertentu saja. Tidak seperti sekarang di mana televisi menyala selama 24 jam penuh dengan pilihan acara yang beragam, generasi old biasanya hanya akan menonton tayangan yang ‘pantas’ bagi anak-anak seusianya, semisal film kartun dan sejenisnya.
Karena dalam satu kampung yang memiliki televisi hanya 1-2 kepala keluarga, biasanya pada waktu-waktu tertentu, salah satu rumah yang memiliki televisi biasanya akan padat dipenuhi anak-anak dan remaja yang ikut ‘nebeng’ nonton televisi. Ruang keluarga yang sempit masih harus disesaki anak-anak yang berderet di pintu depan sembari melongok-longok kepalanya kesana-kemari. Bagi generasi zaman dulu, acara televisi apa pun merupakan sebuah hal yang menarik karena menampilkan sebuah ‘keajaiban’ berupa gambar yang bersuara dan bergerak-gerak.
Radio Jaman Dulu.
Makin maraknya televisi dengan sajian program yang lebih beragam, juga bumingnya sosmed seperti facebook, whatsapp, IG dan youtube, menggeser kecenderungan orang mendengarkan siaran radio.Meski saat ini memang masih banyak stasiun radio yang mengudara, namun tak lagi jadi primadona orang untuk mencari informasi berita atau sekadar hiburan
Eli Marlina warga Bandung menuturkan, dulu satu dua orang saja yang punya radio. Masih terbayang dalam ingatan, bentuk radionya, merknya dan siaran-siarannya.
“Bahkan yang paling lucu, saat batu batrenya habis, itu beberapa kali malah dijemur di matahari agar radio kembali menyala. Hingga kini tidak tahu apa hubungannya batu batre radio dijemur bisa kembali menghidupkan radio,” ujarnya seraya tertawa mengenang masa lalu.Soal program siarannya, kata Eli, hanya berisikan tentang info-info berita, dongen sunda, kesenian sunda, dan yang paling populer adalah wayang golek.
“Ya setiap malam minggu RRI selalu menyiarkan pagelaran wayang, bak dari kaset maupun pagelaran langsung dari gedung YPK Bandung,” ujar Mang Tohir warga Bandung.
Menurut Mang Tohir, banyak hal yang jadi kenangan jika bicara tentang eksistensi radio di jaman dulu, tahun 80 puluh ke sana. Radio saat itu benar-benar jadi sarana hiburan dan informasi berita satu-satunya.
“Semakin ke sini harga radio relatif terjangkau oleh kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, sehingga akhirnya banyak yang punya radio,” ujar Mang Tohir.
Biasanya, dulu radio itu sangat digandrungi bapak-bapak. Dari jam 12 malam hingga pagi asyik mendengarkan drama sunda, dan music-musik sunda, kalau orang Jawa Barat.
Sepeda Onthel.
Sepeda Onthel (Bahasa Inggris: roadster bicycle) atau juga disebut sebagai sepeda unta, pit kebo (sepeda kerbau), atau pit pancal adalah sebuah tipe sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi yang biasa digunakan oleh masyarakat perkotaan sampai akhir tahun 1970-an. Sepeda onthel mengacu pada sepeda desain Belanda yang bercirikan posisi duduk tegak dan memiliki reputasi yang sangat kuat dan berkualitas tinggi. Karakteristiknya adalah terdapat rumah rantai tertutup atau katengkas (pelafalan dari bahasa Belanda kettingkast) dengan gigi yang tidak bisa diubah dan biasanya terdapat dinamo di bagian roda depan untuk menyalakan lampu. Sepeda ini juga dilengkapi rem drum atau rem tromol untuk pengereman. Berbagai macam merek sepeda onthel dari berbagai negara beredar di pasar Indonesia. Pada segmen premium terdapat misalnya merek Fongers, Gazelle dan Sunbeam. Kemudian pada segmen dibawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal antara lain seperti Simplex, Burgers, Raleigh, Humber, Rudge, Batavus, Phillips dan NSU.
Sejarah
Sepeda Onthel ini mulai banyak digunakan pada zaman Hindia Belanda. Kemudian pada tahun 1970-an keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh "sepeda jengki" yang berukuran lebih kompak baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya dan tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita. Waktu itu sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Selanjutnya, Sepeda jengki pada tahun 1980-an juga mulai tergeser oleh sepeda MTB sampai sekarang.
Guci Keramik.
Negri cina adalah negri yang terkenal akan guci keramiknya, karya mereka sangatlah bagus dan berkualitas. Banyak di pasaran yang beredar adalah guci-guci buatan cina. Upsssss tapi hasil guci keramik di Indonesia juga tidak kalah bagusnya. Seperti di Singkawang, tempat ini kebanyakan berisi para imigran cina yang keahlian membuat gucinya diwariskan turun-temurun dari leluhur mereka yang dikenal dengan guci-guci keramik besarnya yang dibuat dengan teknik pembakaran tinggi.
Fungsi Guci
Fungsi atau manfaat guci adalah untuk pajangan di rumah, bisa sebagai tempat bunga yang besar seperti fungsi pot atau sebagai tempat barang lain yang dapat disesuaikan fungsinya seperti tempat payung, aksen guci dapat memberikan kesan pada sudut ruangan, sehingga memberikan aura yang kosong menjadi padat berisi dan cantik. Guci juga bisa diletakkan di kantor, hotel dan gedung lainnya. Tour Murah
Guci yang terbuat dari tanah liat dapat kita temui di toko-toko bunga plastik atau biasanya bisa kita dapatkan di toko pot. Pengrajin Guci yang bagus bisa kita temui di kota Malang dan Jogjakarta. Kedua kota ini memiliki cukup banyak industri kerajinan tanah liat yang berakar dari tradisi setempat. Bermacam-macam kerajinan indah ini bisa menjadi pengisi ruang yang cukup unik dan terkesan etnik. Barangkali dapat menjadi inspirasi pengisi ruang kosong di rumah kita.
Fungsi berikutnya adalah sebagai barang koleksi, sebagian orang guci dijadikan sebagai barang koleksi. Kerajinan guci tembaga tentunya menjadi incaran para kolektor barang kerajinan tidak hanya dalam negeri tetapi juga orang asing. Mungkin para kolektor tersebut amat tertarik dengan keunikan dan keindahan guci tembaga sehingga mereka tertarik akan nilai estetika tersebut.
Berangkas.
Brankas adalah tempat penyimpanan barang-barang berharga yang terbuat dari besi dan baja yang sistem pengunciannya menggunakan kunci kombinasi atau digital lock.
Fungsi Brankas
Brankas berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang berharga dengan system keamanan dan ketahanan yang tinggi untuk melindungi barang-barang berharga Anda dari bahaya pencurian ataupun kebakaran.
Yang membuat Brankas Besi banyak diminati adalah keamanannya, bahkan ada beberapa type Brankas Besi yang dilengkapi alarm yang akan berbunyi ketika terjadi benturan.
Lampu Penerangan Jaman Dulu.
Lampu dian biasa disebut sebagai semprongan atau cemprong. Semprongan biasanya berbentuk wadah dengan penutup api kaca yang berbentuk bulat memanjang ke atas. Wadah sebagai tempat minyak tanah digunakan sebagai bahan bakarnya. Sumbu yang menghubungkan minyak tanah dengan ujung sumbu akan membuat penerangan menjadi lebih jelas. Untuk menyalakannya, cukup buka penutup kaca dan tutup kembali jika sudah menyala. Yang lucu, ketika menggunakan semprongan, hidung orang-orang yang berada di dekatnya biasanya akan berwarna hitam karena asap yang dikeluarkan dari cerobong kaca yang menggumpal ke atas tidak bisa dihindari.
Jaman dulu, hanya orang-orang dari kalangan menengah ke atas yang memiliki petromaks. Cahaya yang dikeluarkan dari petromaks biasanya akan terang benderang dan terkadang membuat silau pandangan jika dilihat dari dekat. Cara menyalakan petromaks hanya dengan melakukan pompa secara manual pada tuas di bagian bawah petromaks. Semakin besar tekanan pompa, maka akan semakin besar pula cahaya yang dikeluarkannya.
Keris Kuno.
Salah satu benda seni yang harus dilestarikan adalah Keris Yogya. Pada jaman dahulu kala, keris dipergunakan sebagai senjata saat berperang. Sekarang, keris kuno adalah benda pusaka yang bernilai seni tinggi.
Pembuat keris bisa dijumpai di Sleman, tepatnya di daerah Gatak yang menjadi sentra kerajinan keris. Keris biasanya dibuat berdasarkan pesanan, tetapi di pusat kerajinan keris ini, keris diproduksi secara masal. Sebilah keris kuno atau pesanan memberi pamor berbeda karena dianggap memiliki nilai magis. Sebilah keris dengan tombaknya mempunyai tiga pamor yang dilihat mulai dari pangkal ke ujung keris, yaitu beras wutah (simbol kemakmuran), ron kendhuru (kewibawaan), dan junjung drajat (biar derajatnya terangkat).
Keris pesanan dibuat dalam waktu yang lama, dikerjakan satu demi satu, bisa memakan waktu 1 hingga 2 tahun untuk menyelesaikannya. Dikerjakan secara tradisional dengan melakukan beberapa ritual tertentu, seperti berpuasa, menyiapkan sesaji berupa jajan pasar, pisang ayu, sirih ayu, serta bubur merah-putih, hitam, dan kuning. Tidak boleh tidur pada jam tertentu, hingga tidak boleh melakukan hubungan intim. Proses pengerjaannya juga hanya dilakukan pada hari-hari tertentu, serta banyak pantangan lain yang harus dipenuhi agar kerisnya benar-benar mempunyai kekuatan seperti yang diinginkan pemesannya.
Harga sebilah keris dapat mencapai hingga empat puluh juta, harga bisa jadi lebih tinggi jika pemesan meminta warangka (sarung keris) dan genggaman keris yang terbuat dari bahan dan ukiran khusus. Harganya bahkan bisa meningkat berlipat-lipat jika sang pemesan menginginkan kerisnya berlapis emas dan bertatahkan intan permata.
Sementara keris biasa hanya berbahan baku besi, baja, dan nikel, tanpa harus mengikuti cara tradisional para mpu. Namun, keris biasa juga bisa mencapai harga hingga puluhan juta rupiah. Konon, tanda keris berkualitas terletak pada condong leleh dan lungguh wilah. Condong leleh merupakan sudut kemiringan sebuah keris. Adapun lungguh wilah adalah garis mendatar yang ada di bilah keris bagian bawah.
Komentar
Posting Komentar